Kawasan Purbakala Belae

Jumat, 12 Des 2015 | 11:00:00 WIB, Dilihat 304 Kali

Oleh Hamdan Arfandy

Kawasan Purbakala Belae Secara administratif, kawasan gua-gua prasejarah Belae masuk dalam wilayah Kelurahan Belae, Kecamatan Minasa Tene, Kabupaten Pangkep.

Baca Juga : Taman Purbakala Sumpang Bita


Secara administratif, kawasan gua-gua prasejarah Belae masuk dalam wilayah Kelurahan Belae, Kecamatan Minasa Tene, Kabupaten Pangkep. Gugusan gua-gua prasejarah Belae terletak di kaki pegunungan karst dalam wilayah Minasa Tene yang membentang dari barat ke timur. Kelurahan Belae merupakan kawasan yang memiliki kelompok gua prasejarah yang telah diidentifikasi terbesar di seluruh wilayah Pangkep.

Secara keseluruhan situs gua-gua prasejarah Pangkep yang ditemukan sampai saat ini adalah 35 satuan situs. Gua-gua ini merupakan hasil pembentukan alam yang terdapat pada lereng atau kaki bukit kapur (gamping) dengan ketinggian bervariasi antara 10 – 300 m DPL.

Keadaan lingkungan secara umum adalah hutan-hutan pegunungan gamping di puncak dan sisinya; rawa-rawa dan aliran sungai di depan mulut gua yang ditumbuhi pohon nipa dan persawahan penduduk di latar depannya. Gua-gua kapur terbentuk dari hasil pelarutan batuan gamping yang berlangsung dalam waktu sangat lama dan lamban yang pada akhirnya membentuk gua (cave) dan ceruk (shelter).

Kompleks situs gua Belae, sebagaimana digambarkan terdahulu merupakan rangkaian dari satuan topografi karst regional Pangkep. Satuan ini bentuknya tak beraturan. Barisan gua-gua terletak di sisi utaranya mengitari setengah lingkaran keseluruhan keliling kompleks. Gua-gua yang terdapat di kawasan ini berjumlah 25 buah yaitu, Gua Tukka, Lessang, Limbubuka, Caddia, Lambuto, Tinggia, Lompoa, Kassi, Kajuara, Pattennung, Jempang, Tanarajae, Sakapao, Bujung, Bayya, Buloribba, Cammingkana, Bujungbujung, Ujung, Sassang, Batanglamara, Sapiria, Lamperajang, Ulutedong dan Saluka.

Temuan arkelogis yang terdapat di sini secara akumulatif adalah lukisan dinding dan alat-alat serpih (flakes), bilah (blades), mata panah (arrow head), batu inti (core tools), tatal batu, mata tombak (spear head), lancipan batu (point), lancipan tulang, dan alat dari kulit kerang. Lukisan dinding melekat pada permukaan dinding dengan ketinggian bervariasi. Jenis-jenis lukisan berupa cap tangan (hand stencil), ikan, manusia, babi, perahu, penyu, geometris dan gambar abstrak dengan. Semua jenis gambar tersebut didominasi warna merah. Teknik melukis yaitu dengan semprotan yang menghasilkan pola negatif (untuk cap tangan) dan teknik oles (usap) yang menghasilkan pola positif (untuk lukisan manusia, ikan, penyu dan geometrik, dan abstrak). Temuan-temuan artefaktual berupa alat-alat serpih, bilah, lancipan, alat tulang, dan kulit kerang dan lain-lain ada yang ditemukan dipermukaan tanah ada pula yang melalui ekskavasi.

Di samping temuan artefak diperoleh juga sisa-sisa makanan (sampah dapur) dari hewan seperti babi hutan (Sus celebensis), rusa (Cervus timorensis), tikus (Rattus rattus), musang sulawesi (Macrogalidia muschenbroela), dan jenis ayam hutan (Gallus galvus). Selain itu didapatkan pula jenis-jenis kerang dari fillum moluska dan crustacea.



Taman Purbakala Sumpang Bita
  • Taman Purbakala Sumpang Bita

    Jumat, | 11:00:00 | 357 Kali


  • Kawasan Wisata Mattampa
  • Kawasan Wisata Mattampa

    Jumat, | 11:00:00 | 338 Kali


  • Pulau Cambang-cambang
  • Pulau Cambang-cambang

    Jumat, | 11:00:00 | 646 Kali


  • Pulau Kapoposang
  • Pulau Kapoposang

    Jumat, | 11:00:00 | 369 Kali