Festival Sop Saudara

Oleh: STIC Dinas Pariwisata Sulsel 12 Desember 2015 - 09.00 - Selesai WIB | dibaca: 456 pembaca

Festival Sop Saudara

Festival Sop Saudara telah masuk dalam event tahunan (Callender of Event) pariwisata Sulsel sejak tahun 2012 lalu. Sebelumnya, pada tahun 2009, Sop Saudara Pangkep ikut ajang Festival Kuliner Internasional Tongtong Fair, di Denhaag, Belanda.



Popularitas produk makanan berkuah ini telah ikut mempopulerkan Kabupaten Pangkep di kancah kuliner tanah air. Asal usul dan sejarah Sop Saudara tidak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan hidup H Abdullah alias H Dollahi, sang penemu dan peracik pertama Sop Saudara Pangkep.



Berawal dari tahun 1957, H Dollahi, putera kelahiran Sanrangan, Kecamatan Pangkajene, Pangkep, ini melirik pekerjaan sebagai pelayan warung. Kala itu, seorang warga Pangkep bernama H Subair (alm) membuka warung Sop Daging di Pasar Bambu Makassar yang pada waktu itu cukup laris. Pengalaman sebagai pelayan warung selama tiga tahun, H Dollahi banyak belajar tentang Sop. Tahun 1960 ketika Pasar Senggol (sekitar Karebosi) Makassar dibuka, ia memutuskan untuk mendirikan usaha warung sendiri dengan dibantu 14 karyawan yang berasal kalangan intern keluarga sendiri.



H Dollahi berkreasi membuat Sop yang lebih istimewa dibanding dengan racikan seniornya, H Subair, dengan menambahkan bumbu yang selama ini dinilainya masih kurang. Selain membenahi rasa, ia juga memberi terobosan memberi nama Sop buatannya dengan nama Sop Saudara.



Mengapa memilih nama Sop Saudara? Alasannya adalah selain terinspirasi dari nama warung Coto Paraikatte yang juga terkenal saat itu, juga dimaksudkan agar orang-orang yang datang dan makan Sop di warungnya merasa bersaudara dengan pemilik, pelayan, dan sesama pelanggan warung. Misi Sop Saudara menghadirkan nilai dan suasana persaudaraan.



Sop Saudara tidak jauh berbeda dengan Coto Makassar, makanan khas Sulawesi Selatan lainnya. Sama-sama berbahan baku daging sapi dan keduanya disajikan dalam mangkuk kecil. Yang berbeda adalah Sop Saudara menggunakan parkedel kentang sedangkan Coto Makassar tidak. Bumbu yang digunakan juga sedikit berbeda, karena Sop Saudara menggunakan merica dan ketumbar. Yang lainnya sama saja, keduanya menggunakan bawang merah, bawang putih, lengkuas sebagai bumbu dasarnya.



Perbedaan lain dari keduanya adalah cara penyajiannya. Coto Makassar biasanya disajikan bersama ketupat, sedangkan Sop Saudara disajikan dengan nasi dan ikan bakar (bandeng). Tetapi menurut sang penemunya, H Dollahi, hidangan Sop Saudara akan terasa lebih istimewa bila tidak dihidangkan dengan ikan bakar karena menurutnya Cobe-Cobe (saus) dari ikan bakar bisa menghilangkankan aroma dan rasa khas Sop Saudara.



Kini, warung Sop Saudara Pangkep mengalami perkembangan pesat, tidak hanya di Sulawesi Selatan tetapi juga telah merambah di seantero nusantara, bahkan di Malaysia dan Arab Saudi.



Pada tahun 2013, atas prakarsa Bupati Pangkep, H Syamsuddin A Hamid, SE, diselenggarakan Festival Sop Saudara 2013 dan sukses meraih Piagam Penghargaan dan dicatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) No.6106/R-MURI/VIII/2013, tanggal 21 Agustus 2013, Kategori Peserta Terbanyak, 2.500 Orang.


Tanggal : 11 April 2016 11 Februari 2016
Tempat : pangkep
Pukul    : 09.00 - Selesai
STIC Dinas Pariwisata Sulsel
Penulis: STIC Dinas Pariwisata Sulsel