Accera Kalompoang

Oleh: STIC Dinas Pariwisata Sulsel 12 Desember 2015 - 09.00 - Selesai WIB | dibaca: 444 pembaca

Accera Kalompoang

Museum Balla Lompoa tidak dapat dipisahkan dengan upacara adat Accera Kalompoang, upacara untuk membersihkan benda-benda bersejarah, pusaka Kerajaan Gowa yang tersimpan dalam museum Balla Lompoa. Di Museum Balla Lompoa ini setiap selesai Shalat Id Adha sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat Gowa melakukan pencucian benda-benda pusaka tersebut



Inti upacara disebut allangiri kalompoang, yaitu pembersihan dan  penimbangan salokoa (mahkota) yang dibuat pada abad ke-14. Benda-benda kerajaan yang dibersihkan di  antaranya: Tombak rotan berambut ekor kuda (panyanggaya barangan), Parang  besi tua (lasippo), Keris emas yang memakai permata (tatarapang), Senjata  sakti sebagai atribut raja yang berkuasa (sudanga), Gelang emas berkepala naga (ponto janga-jangaya), Kalung kebesaran (kolara), Anting-anting emas murni (bangkarak ta‘roe), dan kancing emas (kancing gaukang).



Pencucian benda-benda kerajaan tersebut menggunakan air suci yang dipimpin  oleh seorang Anrong Gurua (Guru Besar) dan diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah secara bersama-sama oleh para peserta upacara. Khusus untuk senjata-senjata pusaka seperti keris, parang dan mata tombak, pencuciannya diperlakukan secara khusus,  yakni digosok dengan minyak wangi, rautan bambu, dan jeruk nipis. Pelaksanaan  upacara ini disaksikan oleh para keturunan Raja-Raja Gowa, dan masyarakat umum dengan syarat harus berpakaian adat Makassar pada saat acara.



Penimbangan salokoa atau mahkota emas  murni seberat 1.768 gram ( Mahkota ini  pertama kali dipakai oleh Raja Gowa, I Tumanurunga, yang kemudian disimbolkan  dalam pelantikan Raja- Raja Gowa berikutnya.) dengan diameter 30 cm dan berhias 250 butir berlian. Makna penimbangan ini merupakan petunjuk bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Jika timbangan mahkota tersebut berkurang, maka itu menjadi  pertanda akan terjadi (bala) bencana di negeri mereka.  Sebaliknya, jika timbangan mahkota tersebut  bertambah, maka itu menjadi pertanda kemakmuran akan datang bagi masyarakat  Gowa.



Konon suatu waktu, mahkota yang beratnya kurang dari 2 kilogram ini tidak  dapat diangkat oleh siapa pun, bahkan empat orang sekaligus berusaha mengangkatnya,  namun tetap saja tidak sanggup. Upacara adat yang sakral ini pertama kali dilaksanakan  oleh Raja Gowa yang pertama kali memeluk Islam, yakni I Mangngarrangi Daeng  Mangrabbia Karaeng Lakiung Sultan Alauddin pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H.  atau 20 September 1605. Meskipun Raja Gowa XIV itu telah memulainya, namun  upacara ini belum dijadikan sebagai tradisi. Raja Gowa XV, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenanga Ri  Papambatuna, mentradisikan upacara ini pada setiap tanggal 10 Zulhijjah, yakni  setiap selesai shalat Idul Adha. Selanjutnya, Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng  Mattawang Karaeng Bontomanggape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana yang  bergelar Ayam Jantan dari timur, memasukkan unsur-unsur Islam ke dalam upacara ini, yakni penyembelihan hewan kurban. Sejak itu, Raja-raja Gowa berikutnya terus  melaksanakan upacara Accera Kalompoang ini dan sampai sekarang terus dilaksanakan  oleh para keturunan mereka.



Upacara adat Accera Kalompoang digelar  sekali setahun, yakni setiap usai shalat Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah di  Museum Balla Lompoa, Kabupaten Gowa.  Selain benda-benda pusaka tersebut, juga ada beberapa benda impor yang tersimpan  di Museum Balla Lompoa turut dibersihkan, seperti kalung dari Kerajaan Zulu,  Filipina, pada abad XVI; tiga tombak emas; parang panjang(berang manurung);  penning emas murni pemberian Kerajaan Inggris pada tahun 1814 M.; dan medali  emas pemberian Belanda.


Tanggal : 12 September 2016 12 September 2016
Tempat : gowa
Pukul    : 09.00 - Selesai
STIC Dinas Pariwisata Sulsel
Penulis: STIC Dinas Pariwisata Sulsel