Maudu Lompoa Cikoang

Oleh: STIC Dinas Pariwisata Sulsel 12 Desember 2015 - 12:12:00 WIB | dibaca: 464 pembaca

Maudu Lompoa Cikoang

Perayaan Maudu’ Lompoa digelar di Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Perayaan ini bertepatan dengan 29 Rabiul Awal dalam penanggalan hijriyah. Maudu’ Lompoa adalah tradisi maulid yang dirayakan oleh warga Takalar guna memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.



Tradisi unik ini telah menjadi salah satu agenda wisata budaya yang mendatangkan banyak wisatawan. Pada dasarnya, tradisi ini berdasarkan tiga faktor keyakinan dan keikhlasan. Ketiga faktor itu, yaitu memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kejadian di alam Nur, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW keadaan di alam rahim, dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kelahiran di alam dunia.



Ada beberapa rangkaian acara yang harus dilakukan bagi mereka yang ikut dalam Maudu’ Lompoa ini. Persiapan diawali dengan menyediakan ayam, beras, minyak kelapa, telur, julung-julung (perahu), kandawari, bembengan, panggung upacara dan lapangan upacara. Ayam yang akan digunakan dalam tradisi ini juga sudah harus dikebiri selama sebulan sebelum 12 Rabiul Awal atau sekitar tanggal 10 Shafar. Ayam-ayam itu dikurung agar tidak lagi makan dari berbagai barang najis.



Orang-orang juga setidaknya harus memiliki satu ekor ayam yang sehat. Ayam tersebut baru akan disembelih pada masa perayaan Maudu’ Lompoa. Ayam-ayam itu pun tidak boleh disembelih oleh orang sembarangan, harus disembelih oleh anrongguru (tokoh dari keluarga Sayyid) yang memimpin prosesi upacara tersebut.



Selain ayam, beras yang digunakan dalam semua prosesi Maudu’ juga harus diproses sendiri, yaitu ditumbuk pada lesung yang sudah dibersihkan. Lesung itu harus dipagari dan tidak boleh rapat ke tanah. Orang yang menumbuk juga tidak boleh menaikkan kakinya di atas lesung. Sedang padi yang ditumbuk harus dijaga baik-baik, tidak boleh sebiji pun jatuh ke tanah. Ampasnya harus dikumpul baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesainya dibaca Surat Rate’ (Kitab Maudu’).



Kitab tersebut menceritakan kelahiran Nabi sampai riwayat datangnya Islam yang dibawa oleh Sayyid Jalaluddin. Prosesi penyediaan beras tidak sampai disitu saja. Karena setiap orang hanya bisa memiliki empat liter yang bermakna bahwa setiap manusia terdiri atas empat segi atau kejadian manusia terdiri dari empat asal, yaitu tanah, air, angin dan api.



Bakul yang digunakan terbuat dari daun lontar yang berukuran minimal untuk empat liter beras dan satu ekor ayam untuk satu orang. Ukuran bakul bertingkat-tingkat sesuai banyaknya jumlah keluarga atau pengikut. Jadi, semakin banyak maka akan kelihatan jumlah keluarganya. Selain ayam dan beras, minyak kelapa yang digunakan juga harus dibuat sendiri dan hanya bisa digunakan khusus untuk acara tersebut. Kecuali bila upacaranya telah selesai.



Hampir setiap detail dalam tradisi ini memiliki aturan yang sakral. Contoh lainnya adalah tempurung kelapa yang digunakan untuk berbagai keperluan, tidak boleh yang sudah tertimbun di tanah agar tidak terkena najis. Telur yang digunakan juga harus direbus terlebih dahulu lalu ditusuk pada ujung bambu yang sudah dipecah-belah kecil dan runcing lalu ditancapkan di atas bakul.



Prosesi akhirnya akan bermuara pada pembuatan julung-julung (perahu) dari bambu atau kayu dengan dua buah tiang layar, penuh dengan kain yang berwarna-warni sebagai layar dan bendera. Julung-julung ini merupakan simbol datangnya ajaran kebenaran dari Nabi yang dibawa oleh Sayyid Djalaluddin.



Perahu itu pun harus bertiang empat yang agak tinggi sehingga bentuknya mirip dengan panggung. Pada bagian belakang perahu itu biasanya ditempeli uang kertas Rp 5.000,- atau Rp 10.000,-. Bagi keluarga yang mampu secara finansial pun diwajibkan membuat satu perahu, sedang keluarga yang kurang mampu biasanya berkelompok dengan beberapa keluarga lain untuk membuat satu perahu. Sedangkan kandawari, burung merak dan bembengan dibuat berbentuk segi empat dan bertiang empat kemudian ditempatkan di darat saja.



Selain itu, dibuat juga sebuah panggung kayu yang dipasangi tenda. Di atas panggung inilah dilaksanakan inti acara Maudu’ Lompoa, yaitu zikkiri’ (berisi syair-syair pujaan kepada Rasulullah SAW).



Pada dasarnya ada dua tahap pelaksanaan upacara Maudu’ Lompoa, yakni: Ammone baku’ (mengisi bakul). Proses ini hanya boleh dilakukan oleh perempuan yang suci dari hadas dan najis (selalu berwudhu). Isi bakulnya sendiri adalah nasi setengah masak, ayam yang dibungkus daun pisang lalu ditutup dengan daun pisang atau daun kelapa muda. Telur-telur yang sudah ditusuk dengan bambu juga ditancapkan di atas nasi (bakul). Kedua, Ammode baku’ (menghiasi bakul). Pada tahap ini bakul yang sudah diisi kemudian dihias dengan bermacam-macam warna dari dari berbagai hiasan berharga. Hiasan-hiasan ini menjadi ukuran tingkat kemampuan sosial pemiliknya. Karena itulah, sebagian orang biasanya menjual sesuatu untuk memperoleh biaya memperbesar kanre maudu (nasi Maulid).



Setelah melakukan persiapan yang panjang, Maudu’ Lompoa pun akhirnya bisa dilaksanakan. Ada lima tahapan Maudu’ Lompoa di Takalar. Pertama, Angngantara’ kanre Maudu (mengantar persiapan Maulid) Lokasi maudu’ adalah di tepi Sungai Cikoang. Pada pagi hari tanggal 29 Rabiul Awal setiap tahun segala persiapan dan peralatan diantar ke sana oleh masing-masing pemiliknya dengan doa tersendiri.



Kedua, Pannarimang Kanre Maudu (penerimaan nasi Maulid). Penerimaan ini dilakukan oleh guru yang memimpin upacara itu, dengan membakar dupa dan duduk bersila menghadap kiblat sambil membaca doa agar persembahannya itu diterima dan menyenangkan Rasulullah SAW.



Ketiga, Rate’ (pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya). A’rate’ (inti acara) artinya membaca kisah atau syair-syair pujian terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama tersendiri yang amat khas dan menyentuh hati. Acara ini biasanya berlangsung sekitar dua jam. Kitab Rate’ ini merupakan karya besar Sayyid Djalaluddin Al`Aidid dan menjadi inti ajaran-ajarannya dalam tarekat “Nur Muhammad”. Setelah berakhirnya acara ini, maka selesailah inti acara maudu’.



Keempat adalah Pattoanang (Istirahat). Yaitu jamuan undangan yang disediakan sesudah selesai upacara inti. Jamuan yang dihidangkan dibuat sendiri oleh penyelenggara acara tersebut dan para undangan/peserta dapat menikmati makanan dan minuman dengan ramah. Pelaksana acara merasa lega karena telah melaksanakan pengabdian yang sangat berat tapi mulia kepada Nabi Muhammad SAW.



Terakhir, Pambageang Kanre Maudu’ (Pembagian Nasi Maulud). Setelah semua acara berlangsung, maka para tamu yang akan bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing dibagikan makanan (kanre maudu’) sebagai berkah dari hadrat Nabi oleh penyelenggara, menurut tingkatan sosial di dalam masyarakat.



Upacara Maudu’ Lompoa mempunyai kesan dan pengaruh batin yang luar biasa bagi masyarakat Takalar. Ketika acara berlangsung, tidak seorang pun yang boleh bubar meski di tengah sengatan terik matahari atau guyuran hujan, kecuali pengunjung dari luar. Mereka menganggap panas matahari atau hujan adalah rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, orang-orang yang lari berarti lari dari rahmat Allah. Di samping itu, anggota masyarakat setempat menjadikan tradisi itu sebagai tujuan dari aktifitas hidupnya.


Tanggal : 10 Januari 2016 10 Januari 2016
Tempat : takalar
Pukul    : 12:12:00
STIC Dinas Pariwisata Sulsel
Penulis: STIC Dinas Pariwisata Sulsel