Pesta Adat Andinging

Oleh: STIC Dinas Pariwisata Sulsel 12 Desember 2015 - 09.00 - Selesai WIB | dibaca: 456 pembaca

Pesta Adat Andinging

Upacara adat A'ndingingi di Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, merupakan sebuah prosesi langka. Prosesi A'ndingingi adalah ritual adat untuk mendinginkan seluruh isi alam, memanjatkan doa agar manusia senantiasa menjaga alam dan isinya dan seluruh usaha manusia untuk menjaga alamnya diberkahi dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.



Pada pelaksanaan upacara adat ini, tidak diperbolehkan bagi masyarakat adat Kajang memasak, mengganggu atau mengusik binatang, karena mereka merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan tidak boleh diganggu. Menurut adat, pada saat manusia menjaga alamnya, maka alam pun akan menjaga manusia. 



Acara ini selalu dilaksanakan menjelang setiap pergantian tahun hijriah. Total prosesi acara A'ndingingi berlangsung tiga hari berturut-turut. Pada hari pertama, dilaksanakan acara A'battasa Bahung atau prosesi membersihkan sumber mata air yang akan dipergunakan untuk upacara A'ndingingi.  Selanjutnya, dilaksanakan acara pembuatan barung-barung atau baruga sederhana, tempat pelaksanaan upacara. Pada hari kedua ini juga dilaksanakan Appalentenge Ere, atau prosesi mengambil dan mendinginkan air selama semalaman, proses berlangsung sejak tengah malam di Borong Karrasaya.



Acara pada hari pertama dan kedua sifatnya tertutup, hanya dihadiri oleh para pemangku Adat Amma Toa Kajang dan komunitas masyarakat Kajang Dalam. Undangan (masyarakat umum) yang berasal dari berbagai daerah sudah tiba di kawasan Kajang Luar (Ipantarang Embaya) selepas magrib.



Usai santap malam di kediaman Gallak Lombo atau Kepala Desa Tana Toa selaku pemangku adat Amma Toa yang menghubungkan masyarakat adat di Kawasan Kajang Dalam dengan masyarakat luar kawasan, Gallak Lombo terlebih dahulu menanyakan kepada Pemangku Adat Pembawa Kabar, apakah izin untuk memasuki Kawasan Kajang Dalam sudah dititahkan oleh Amma Toa. Setelah Pemangku Adat Pembawa Kabar menyilakan, Gallak Lombo didampingi seorang Pemangku Adat yang bertugas menuntun rombongan berjalan beriringan memasuki Kawasan Kajang Dalam dan seterusnya memasuki kawasan hutan keramat dari arah timur dengan mengikuti aba-aba pelaksanaan ritual seperti mengambil satu pucuk daun, kemudian meletakkannya pada batu besar di sisi jalan setapak. Ritual ini dilakukan dua kali selama perjalanan.



Memasuki kawasan upacara tiga orang Pemangku Adat telah menjemput di ujung jalan setapak sebelum berbelok ke kiri untuk memasuki lokasi barung-barung atau baruga sederhana tempat pelaksanaan upacara. Di depan barung-barung telah berdiri lima orang Pemangku Adat yang akan menuntun para undangan ke tempat duduknya dan meminta dengan hormat untuk menonaktifkan kamera dan video recorder.



Barung-barung berukuran kurang lebih 5 x 12 m2, yang terdiri atas dua bagian yang disatukan, berdiri dengan dua pintu masuk dari arah barat dan timur. Pintu masuk yang harus dilewati oleh para undangan terdapat di sebelah barat. Tepat di depan tengah luar dari tiang utama yang menghubungkan dua bagian Barung-barung terdapat perangkat sesajen yang akan dipergunakan dalam upacara adat ini dan dijaga oleh dua orang Pemangku Adat lelaki. Sesajen ini terdiri atas berbagai buah-buahan dan padi ladang.



Jenis sesajen terdiri atas ketam hitam yang sudah dikukus sebagai simbol alam sebelum manusia lahir. Ketan putih yang sudah dikukus sebagai simbol alam dunia, tempat manusia hidup sekarang. Ketan merah yang sudah dikukus sebagai simbol alam sesudah manusia meninggalkan dunia ini. Telur yang telah direbus sebagai simbol kehalusan budi yang selaras antara isi hati, isi pikiran, dan kata-perbuatan. Secara fisik, semua bagian dari telur sangat halus dan bersih, walau berbeda warna dan letaknya. Semua hasil ladang dan kebun seperti ubi jalar putih dan merah, pisang dan dihiasi dengan lilin yang terbuat dari daging buah kemiri yang disebut sulu rakrasa. Pelita daging buah kemiri ini adalah alat penerangan sehari-hari di Kawasan Kajang Dalam. Sebab sesuai Pasang ri Kajang di dalam Kawasan Kajang Dalam hanya boleh menggunakan perlengkapan-perlengkapan yang sederhana. Seruas bambu berisi air kelapa sebagai simbol dari keteguhan tekad dan persatuan dan kesatuan, sebagai makna dari Pasang ri Kajang: A'lemo sibatu a'bulo sipappa sipahua manyu siparampe (buah lemon/jeruk sama berbiji, batang bambu beruas-ruas, bila tenggelam akan saling menolong. Intinya pesan ini adalah persatuan dan saling tolong-menolong. Air kelapa sebagai simbol kejernihan hati dan sebagai penawar bagi penyakit.



Di bagian tengah dalam barung-barung, terdapat perangkat upacara yang meliputi air suci yang telah didinginkan selama semalam dalam prosesi Appalentenge Ere, seikat besar tumbuh-tumbuhan yang diambil dari dalam hutam keramat yang dipercaya memiliki khasiat dan seperangkat kapur sirih di atas talam anyaman daun kelapa diletakkan dan dijaga oleh permaisuri Amma Toa dan dua orang perempuan kepercayaannya. Di sekeliling barung-barung terdapat tanah datar kurang lebih dua meter yang dikelilingi oleh hutan alam yang sangat rapat. Di antara pohon-pohon tinggi besar tersebut terdapat 6 jalan setapak untuk masuk keluar dari lokasi barung-barung sesuai dengan 6 arah mata angin. Di arah timur laut jalan setapak yang dilalui para undangan terdapat tempat sesajen yang terbuat dari anyaman daun kelapa seluas 1 x 1 meter dan terletak tepat di bawah pohon besar. 



Setelah semua yang hadir duduk tertib di dalam barung-barung di atas tanah yang dialasi desaunan, Wakil Amma Toa memulai Upacara Adat A'ndingingi dengan membaca doa. Amma Toa sendiri tidak hadir dalam prosesi ini, sebab sesuai aturan Pasang ri Kajang adalah Amma Toa tidak boleh meninggalkan kediamannya yang disebut Benteng, sehingga untuk beberapa upacara adat yang dilakukan di luar kediaman Amma Toa, prosesinya selalu dipimpin oleh wakil Amma Toa didampingi oleh Pembicara Amma Toa atau Tu'beko.



Semua prosesi dilaksanakan dengan bahasa pengantar bahasa Konjo, bahasa asli masyarakat adat Amma Toa Kajang. Bahasa ini sendiri memiliki banyak kemiripan dengan bahasa-bahasa lain dalam rumput masyarakat adat di Sulawesi Selatan, sehingga para undangan tidak terlalu mengalami kesulitan mengerti arti atau maksudnya. 



Puncak acara dilaksanakan pada hari ketiga. Semua undangan yang telah berpakaian hitam-hitam bersiap-siap memasuki Kawasan Kajang Dalam dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Sebelum bergerak, Gallak Lombo terlebih dahulu membacakan aturan-aturan yang harus diikuti selama berada di Kawasan Kajang Dalam dan Hutan Keramat (Borong Karrasaya). Aturan-aturan itu berupa; tidak boleh membuang ludah sembarangan; tidak melewati daerah yang bukan jalur setapak yang menuju ke Borong Karrasaya, dalam arti menginjak-injak tanaman yang bukan berada pada jalur setapak untuk mempersingkat jarak yang ditempuh; tidak memetik tanaman apa pun selama dalam perjalanan tanpa izin pemimpin rombongan (Gallak Lombo); dan tidak menimbulkan suara gaduh/ribut, berbicara dengan pelan dan pada tempat-tempat tertentu tidak diperbolehkan berbicara.



Pada acara ini dilakukan A'bebese atau prosesi menyiramkan air ke arah empat penjuru mata angin dengan mengelingi semua yang hadir sebanyak tiga kali, dilakukan oleh Tu'nete. Acara ini dimulai sejak subuh, sekitar pukul 05.30. Para undangan diwajibkan berpakaian hitam-hitam, lelaki boleh memakai destar (penutup kepala) atau passapu. Laki-laki pelaksana A'bebese tidak diperbolehkan memakai baju, hanya memakai sarung sebatas pinggang dan destar di kepala, semuanya berwarna hitam. Perempuan memakai baju dan sarung, juga berwarna hitam. Semua yang hadir sesuai tradisi sebaiknya membawa makanan alami yang kemudian akan digunakan untuk sesajen pada keempat penjuru angin. Sebab, di kawasan Kajang Dalam tidak diperbolehkan ada kegiatan masak-memasak selama prosesi berlangsung. Di dalam Borong Karrsaya tidak dibolehkan ada cahaya buatan. Boleh disyuting namun tanpa lampu. Tidak ada kegiatan duniawi di dalam Kawasan Kajang, khususnya di Borong Karrasaya selama prosesi upacara adat ini. 



Pada hari terakhir ini, juga dilaksanakan upacara meminta berkah dan doa yang dipimpin langsung oleh Amma Toa yang telah lebih tiba dan bermalam di Borong Karrasaya. Usai upacara berdoa, semua yang hadir di-bacca (diberi tanda di dahi antara kedua mata dan pangkal leher). Ini merupakan isyarat peringatan untuk selalu konsekuen menjaga alam. Pada empat penjuru mata angin yang telah disiram dengan air yang sudah didinginkan itu ritual appalentenge ere ke empat penjuru mata angin dilakukan dengan mengelilingi semua yang hadir sebanyak 3 kali putaran atau 28 kali, diikuti kebasan dedaunan dari berbagai macam tanaman yang diikat menjadi satu dan telah direndam semalaman bersama dengan air suci tersebut. Maksudnya agar pada masa mendatang alam akan kembali dingin (aman, tenteram, dan damai). Menggunakan seikat besar dedaunan maksudnya bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan (Turie Akrakna) sangat bergantung pada alam dan dengan menghormati dan menjaga alam serta isinya, maka diharapkan alam bersahabat dengan manusia dan saling menjaga. Prosesi ini dilaksanakan oleh dua orang Tu'nete yang tanpa mengenakan baju, hanya kain sarung yang dililitkan ke tubuhnya. 



Salah seorang dari perempuan kepercayaan permaisuri Amma Toa membawa semacam adonan bedak kuning di dalam wadah mangkok yang kemudian diberi jampi-jampi/doa oleh pemimpin prosesi atau wakil Amma Toa. Adonan inilah yang selanjutnya digunakan sebagai bacca. Usai diberi doa, adonan tersebut dibagi menjadi dua bagian yang masing-masing dibawa oleh masing-masing seorang lelaki dan perempuan, kemudian berkeliling di antara yang hadir untuk a'bacca atau memberi bacca pada dahi dan di pangkal leher yang hadir. Maksud ritual ini adalah agar semua yang hadir selalu jujur pada diri sendiri dan orang lain, dengan menyatukan apa yang ada di pikiran dengan apa yang ada di hatinya.

Prosesi selanjutnya adalah mengumpulkan semua hasil pertanian/kebun masyarakat untuk diberkahi dan didoakan semoga panen mendatang dapat berhasil dan memuaskan. Hasil panen tersebut disimpan dalam wadah yang disebut kalili (semacam tempayan yang dibuat dari anyaman rotan dialasi daun pisang). 



Pada acara A'ndingingi ini juga disebarkan biji-biji tanaman sebanyak 3 kali putaran mengelilngi barung-barung. Maksudnya adalah sebagai manusia kita harus selalu ingat untuk selalu terlebih dahulu ''menanam'' bila kita akan ''memanen''. 



Prosesi terakhir adalah mencicipi makanan yang telah disediakan bersama-sama. Makanan yang tersedia adalah beras ketan hitam hasil ladang yang telah dikukus dan ditaruh di dalam piring anyaman daun pandan, sedangkan kacang merah kecil dan kacang hijau sebagai sayur. Lauk ikan serta ayam ditaruh di dalam mangkok yang terbuat dari batok kelapa yang dibelah dua. Tempat minumnya adalah batok kelapa dan batok buah bila yang telah dilubangi. Dengan berakhirnya acara ini, maka tuntas sudah seremoni A'ndingingi.


Tanggal : 24 Januari 2016 24 Januari 2016
Tempat : bulukumba
Pukul    : 09.00 - Selesai
STIC Dinas Pariwisata Sulsel
Penulis: STIC Dinas Pariwisata Sulsel